"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Maha Agung Allah Yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sangat sempurna. Angkasa raya bergerak dan berputar bagaikan putaran roda-roda mesin yang tak saling bertabrakan. Rapi dan harmonis. Indah dan menawan. "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat, sesuatu yang tidak serasi?" (QS. Al-Mulk: 3)
Keseimbangan dan keserasian adalah buah dari ketelitian yang amat sempurna. Dan ketelitian tak lain adalah keseriusan mencermati hal-hal kecil. Bahkan, teramat kecil. Hamba Allah yang bijak selalu menjaga keseimbangan diri dan jiwanya. Dan semua itu dimulai dari mencermati hal-hal kecil.
Para sahabat Rasulullah yang tergolong dari kelompok miskin pernah tak sadar kalau banyak hal kecil bernilai besar. Suatu hari, mereka minta pendapat kepada Rasulullah tentang sahabat-sahabat kaya. Betapa enaknya mereka. Ketika yang miskin beribadah, yang kaya pun ibadah. Yang miskin berjihad, yang kaya pun demikian. Cuma, mereka yang kaya mampu berinfak dengan kelimpahan harta mereka.
Rasul yang bijak pun memberikan penyadaran. Bahwa, bersedekah tak mesti dengan sesuatu yang besar seperti harta yang banyak. Tak sedikit hal-hal kecil bernilai sedekah. Ucapan tasbih adalah sedekah, tahmid sedekah, tahlil sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalan pun bernilai sedekah. Ada satu lagi yang tak terduga para sahabat yang juga bernilai sedekah. Berhubungan intim dengan isteri juga sedekah.
Sering, kita tak menduga kalau hal kecil bisa berdampak besar. Kekerdilan pikiran manusia tak menjangkau takaran yang telah ditetapkan Allah swt. Rasulullah pernah dikabarkan malaikat Jibril tentang suara sandal dalam surga. Rasul terheran-heran, bagaimana mungkin ada suara sandal padahal surga belum berpenghuni. Dan tahulah Rasul, suara sandal itu adalah milik sahabat Bilal bin Rabbah.
Bilal agak bingung mendapat kabar itu dari Rasulullah. Ia merasa tak punya amalan yang istimewa. Semuanya biasa saja. Cuma satu perbuatan yang sangat ia jaga. Bilal tak pernah terjaga dalam keadaan tidak berwudu. Selama diri masih bernafas, wudhu tetap dijaga Bilal. Betapa mudahnya amalan Bilal. Dan betapa kecilnya upaya yang dikeluarkan seorang hamba Allah untuk berwudhu. Tapi, hal itu bernilai besar di sisi Allah swt.
Mungkin tak terpikir oleh kita kalau ada orang baik bisa masuk neraka hanya karena persoalan kecil. Kecil dibanding dengan amalan rutinnya yang tergolong besar, seperti jihad di jalan Allah. Selepas perang Uhud, para sahabat bercerita tentang syahidnya seorang mujahid. Mereka berkeyakinan kalau orang itu sudah masuk surga. Tapi, dugaan itu ternyata salah. Rasulullah dapat kabar kalau sang mujahid tersangkut satu hal. Sebelum syahid, ia mengambil jatah ghanimah yang belum dibagi-bagi.
Banyak kemungkinan yang melatarbelakangi tindakan sang mujahid. Mungkin sang mujahid tak sengaja mendapati harta berharga yang tergeletak ditinggalkan musuh. Mungkin juga, sang mujahid menganggap kalau harta yang diambilnya tak bernilai apa-apa dibanding dengan ghanimah yang akan diperoleh kaum muslimin.
Maha bijaksana Allah yang telah melimpahkan kemuliaan akhlak kepada seorang yang bernama Idris Asy-Syafi'i. Ayah seorang ulama besar, Imam Syafi'I ini pernah mengalami kegelisahan besar. Pasalnya, tanpa sadar ia telah makan apel yang ia temukan dalam aliran sungai. Ia pun akhirnya tersadar, apel yang telah ia makan pasti tidak datang begitu saja bagaikan dari langit. Betapa zhalimnya ia yang telah makan harta milik orang lain tanpa izin. Dengan susah payah, ia telusuri aliran sungai, hingga berhasil bertemu dengan sang pemilik yang mempunyai kebun apel luas. Dan Idris Asy-Syafi'I benar-benar merasa lega setelah mendapat ridha si pemilik kebun.
Bersyukurlah hamba Allah yang berhasil menemukan kekurangan dirinya. Dan merugilah mereka yang merasa aman dengan kealpaan dan kelalaian diri. Dalam pengembaraan pikiran kita, mungkin akan terlihat banyak hal yang telah kita lakukan. Kebaikan dan keburukan. Ada yang besar, dan banyak yang kecil.
Kadang, ego diri menghadang kepekaan jiwa terhadap sentuhan-sentuhan lembut di sekeliling kita. Ada sentuhan langsung berupa kritik, teguran saudara-saudara kita. Sayangnya, kekerdilan pikiran kita menimbang kritik itu sebagai hal kecil. Kecil dibanding dengan prestasi yang telah kita persembahkan buat umat ini. Ada juga sentuhan tak langsung berupa kesukaran-kesukaran yang tiba-tiba mengelilingi kita. Lagi-lagi, ego kita menterjemahkannya dalam bentuk lain. Justru, yang muncul malah prasangka buruk terhadap kebijakan Allah yang Maha Kasih dan Sayang.
Umar bin Khaththab pernah mengungkapkan hal yang cukup menarik. Sahabat yang biasa bersikap tegas dengan kepekaan tinggi ini mengatakan, "Periksalah dirimu sebelum kamu diperiksa. Timbanglah amal perbuatanmu, sebelum diri kamulah yang ditimbang." Sebuah sentuhan kewaspadaan yang teramat tajam. Kewaspadaan dengan hal besar. Dan kehati-hatian dengan sesuatu yang mungkin kita anggap kecil.
skip to main |
skip to sidebar
"Lakukan Yang Terbaik"
Senin, 18 April 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Total Tayangan Halaman
My Facebook
clock jhun
About Me
About this blog
jl. Aroeppala no. 48 Makassar90222-indonesia
telp.0411-886033
email: pkpu_makassar@pkpu.or.id
telp.0411-886033
email: pkpu_makassar@pkpu.or.id

0 komentar:
Posting Komentar